JATENGNIH.COM - Pemerintah Kota Semarang menyiapkan 119 unit pompa dengan kapasitas total 92.190 liter per detik untuk menghadapi musim hujan. Sebanyak 101 unit di antaranya merupakan pompa portabel, dan seluruh pompa disiapkan agar dapat beroperasi selama 24 jam.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang Suwarto mengatakan, pompa-pompa tersebut ditempatkan di wilayah timur, tengah, dan barat kota. Kesiapan infrastruktur juga ditunjang 66 dump truck dan 57 alat berat.
Sejak Maret 2026, DPU melakukan pengerukan sedimen dan membersihkan saluran di 38 hingga 41 titik sungai serta saluran besar. Lokasi yang ditangani antara lain kawasan Kaligawe, Tlogosari, Jalan Gajah, serta wilayah tengah dan selatan kota.
"Teman-teman di lapangan memastikan kesiapan sistem pompa saat ini dalam kondisi fit dan sehat untuk menghadapi musim penghujan," kata Suwarto. Pengerukan dan normalisasi di puluhan sungai serta saluran besar juga terus dipercepat untuk memperlancar aliran air.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang Endro P. Martanto mengatakan posko, peralatan, dan logistik darurat telah disiagakan bersama para pemangku kepentingan dan jejaring relawan.
"Kami menyiagakan posko, peralatan, serta logistik darurat secara terpadu bersama seluruh pemangku kepentingan dan jejaring relawan. Kesiapsiagaan ini krusial untuk memastikan respons cepat di lapangan jika terjadi kondisi darurat," katanya.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti memastikan infrastruktur pengendali banjir, personel, logistik darurat, dan sistem peringatan dini siap digunakan. Ia juga menekankan perlunya koordinasi lintas sektor dan respons cepat dalam menghadapi potensi bencana.
"Seluruh perangkat daerah bersama jajaran terkait harus siaga penuh dan bergerak cepat. Mitigasi dan kesiapan infrastruktur, mulai sistem pompa hingga logistik darurat harus dipastikan berfungsi optimal untuk melindungi masyarakat," ujarnya.
BPBD bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) memperkuat koordinasi operasional dengan menyiapkan posko siaga, mekanisme respons cepat, logistik darurat, dan peralatan operasional. Kesiapsiagaan juga mencakup penguatan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS), pemantauan tinggi muka air secara berkala, serta pemetaan wilayah rawan banjir, tanah longsor, dan angin kencang.