Semarang Siapkan Festival Sastra pada 2027
JATENGNIH.COM - Pemerintah Kota Semarang berencana menggelar Festival Sastra Semarang pada 2027. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, festival itu diharapkan menjadi ruang perte
JATENGNIH.COM - Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mendorong masyarakat lebih dekat dengan sastra melalui kegiatan pembacaan puisi bersama para sastrawan. Ia juga mengungkapkan rencana menggelar festival sastra pada 2027.
Dalam kegiatan tersebut, Agustina membacakan puisi dan mengapresiasi karya para seniman. Ia turut menyampaikan penghargaan kepada peserta dari berbagai kalangan, termasuk sastrawan senior, mahasiswa, pelajar, komunitas, dan masyarakat.
Agustina menilai pertemuan lintas generasi penting untuk menjaga keberlanjutan kehidupan sastra di Semarang. Sastrawan senior, menurutnya, perlu mendapat ruang untuk berkarya dan berbagi pengalaman dengan generasi muda yang ingin belajar menulis maupun membaca puisi.
Ia berharap kegiatan pembacaan puisi dapat digelar lebih rutin. Agustina juga mendorong Dinas Arsip dan Perpustakaan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata serta perangkat daerah lain untuk memperluas ruang bagi sastrawan.
“Semarang ini gudangnya sastrawan. Kita perlu membuka ruang yang lebih besar bagi mereka. Tidak harus selalu dengan acara besar. Kegiatan sederhana yang berlangsung rutin juga bisa menjadi ruang bagi para sastrawan untuk tampil dan berbagi pengetahuan kepada generasi muda,” ujar Agustina.
Untuk memperluas ruang ekspresi sastra, Agustina menyampaikan rencana penyelenggaraan festival besar pada 2027 yang melibatkan berbagai pihak dalam kegiatan menulis dan membaca.
Pusat buku bekas di kawasan Stadion, Kota Lama, dan kawasan Tugu Muda menjadi sejumlah lokasi yang berpeluang digunakan. Agustina berharap festival itu dapat mempertemukan penulis, pembaca, komunitas, dan masyarakat dari Semarang maupun luar daerah.
Agustina juga memandang puisi bukan hanya karya yang mengungkapkan perasaan pribadi, tetapi dapat menjadi dialog mengenai kehidupan. Melalui puisi, pengalaman, keadaan, dan harapan masyarakat dapat disampaikan.
Menurutnya, karya sastra dapat membantu seseorang memahami pengalaman orang lain dan melihat kehidupan dari perspektif berbeda. Puisi juga dapat digunakan untuk menyuarakan aspirasi serta membangun kesadaran sosial.
Ia turut menekankan pentingnya ruang seni yang inklusif. Agustina mengapresiasi kehadiran peserta penyandang disabilitas dan berharap pengembangan layanan Rumah Inspirasi di tingkat kecamatan dapat memberi mereka ruang untuk mengembangkan bakat seni.
“Cita-cita inklusif tidak bisa hanya dikerjakan pemerintah. Kita membutuhkan keterlibatan masyarakat dan ruang-ruang perjumpaan yang memungkinkan semua orang berpartisipasi. Saya berharap seni, termasuk puisi, juga menjadi bagian dari ruang yang dapat dinikmati dan dikembangkan oleh semua kalangan,” pungkasnya.