Senin, 2 November 2026 · 18:21 WIB
Pendidikan

Seminar Nasional PENA 8.0 UMS Ajak Mahasiswa Kembangkan Inovasi dan Kewirausahaan Berkelanjutan

Seminar Nasional PENA 8.0 UMS Ajak Mahasiswa Kembangkan Inovasi dan Kewirausahaan Berkelanjutan

JATENGNIH.COM - UKM PRISMA Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Seminar Nasional Pekan Ilmiah dan Penalaran Mahasiswa (PENA) 8.0 untuk mendorong mahasiswa menghadirkan inovasi berkelanjutan dan mengembangkan kewirausahaan.

Seminar bertema “Youth-Driven Sustainability: Kontribusi Mahasiswa dalam Mewujudkan Inovasi Berkelanjutan dan Kewirausahaan melalui Asta Cita Berbasis SDGs” itu menjadi puncak rangkaian PENA 8.0. Sebelumnya, kegiatan tersebut menghadirkan Lomba Esai dan Business Plan Competition (BPC).

Ketua Pelaksana PENA 8.0, Wendy Yossamodra, mengatakan kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan dan menawarkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kegiatan ini berangkat dari mahasiswa yang memiliki ide. Melalui tema yang diusung, kami mengajak mahasiswa untuk menghadirkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Wendy, Senin.

Ketua Umum UKM PRISMA UMS Muhammad Daffa Luthfi Bahtiar menjelaskan, tema PENA 8.0 dipilih sebagai upaya mendorong keberlanjutan. Menurut dia, mahasiswa memiliki peran sebagai kontrol sosial yang berkaitan dengan Asta Cita dan dapat berkontribusi langsung bagi masyarakat.

Pembina UKM PRISMA UMS Muhammad Al Fatih Hendrawan berharap mahasiswa terus berimprovisasi dan melakukan perubahan. Ia mengapresiasi PRISMA yang tahun ini berhasil menggelar ajang berskala nasional, serta berharap seminar tersebut dapat menginspirasi peserta untuk mewujudkan Indonesia Emas.

Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi (DKPTI) UMS Ahmad Kholid Al Ghofari turut mengapresiasi PRISMA karena tidak hanya mengikuti perlombaan, tetapi juga menyelenggarakannya. Ia menyebut PRISMA tahun ini lolos PPK Ormawa.

Ahmad juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dihadiri dosen pendamping yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi tetap menyempatkan diri untuk hadir. Menurutnya, kegiatan itu merupakan capaian luar biasa dan para pemimpin organisasi perlu terus didukung.

Seminar sekaligus penutupan PENA 8.0 digelar pada Minggu (18/10/2026), dengan Agita Asri K. sebagai moderator. Mahasiswa Berprestasi (Mapres) FKIP UMS 2026 sekaligus Co-Founder SandarKami itu memperkenalkan pembicara Samuel Lie, Founder & CEO Zypia, kreator konten edukasi, serta penerima beasiswa fully-funded di Universitas Gadjah Mada (UGM). Samuel telah mengisi lebih dari 100 acara sebagai pembicara publik.

Dalam talkshow interaktif, Samuel membuka materi dengan pertanyaan, “Kuliah itu scam?” Ia mengatakan, hal yang perlu dicermati bukan viralnya pernyataan tersebut, melainkan pesan bahwa kuliah merupakan jembatan untuk mengeksplorasi diri. Setiap tahun, sekitar 2,5 juta sarjana lulus, sementara menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), hanya sekitar 1,03 juta yang terserap di dunia kerja setiap tahun.

Samuel menjelaskan, kuliah tidak serta-merta menjamin masa depan yang aman. Ia mengaitkan tema seminar dengan Asta Cita, khususnya pendidikan berkualitas, serta peran mahasiswa sebagai agen perubahan menuju Indonesia Emas 2045. Ia juga mendorong peserta menjadi high achievers, dengan nilai bagus sebagai kewajiban dan standar minimum, sedangkan pencapaian lain menjadi bonus.

Dalam sesi tentang manajemen waktu belajar, Samuel menekankan pentingnya mengoptimalkan efektivitas dari 24 jam yang tersedia setiap hari. Salah satu pendekatan yang disampaikan ialah Prinsip Pareto, yakni 80 persen hasil berasal dari 20 persen usaha. Ia juga menjelaskan cara kerja otak dan mengatakan proses belajar perlu dilanjutkan dari encoding hingga retrieval ke memori jangka panjang.

Membahas kewirausahaan, Samuel menyebut pola pikir sebagai kunci utama. Ia mengajak mahasiswa keluar dari zona nyaman, mengembangkan high value skill, dan mulai mencoba. Menurutnya, mahasiswa yang paling sukses adalah mereka yang berani mencoba meski pernah gagal.

Dalam sesi tanya jawab, moderator menanyakan awal mula Zypia. Samuel menjelaskan bahwa platform tersebut merupakan sarana belajar bagi Gen Z, antara lain untuk persiapan UTBK, dengan fitur pembeda bernama smart scrolling.

“Platform ini dibangun dengan modal nekat tanpa uang sepeser pun, tetapi didukung konsistensi sejak awal,” kata Samuel.

Mahasiswa bernama Ardafa kemudian bertanya tentang efektivitas formula sukses individu ketika faktor ekonomi menjadi kendala utama bagi mahasiswa Gen Z yang belum bekerja. Samuel menjawab bahwa keberuntungan turut berperan, sementara kesiapan individu dan sistem perlu berjalan beriringan.

Menutup acara, Samuel berpesan agar mahasiswa tidak terjebak di zona nyaman karena dunia sedang tidak baik-baik saja. Ia meminta mahasiswa menemukan jati diri, mengembangkan keterampilan bernilai tinggi, dan mampu bertahan dengan keterampilan tersebut, alih-alih mencari nilai diri di tempat yang nyaman.

Bagikan