Selasa, 3 November 2026 · 07:04 WIB
Ekonomi

Kadin Jepara Dorong Inovasi Desain Ukir untuk Perkuat Daya Saing Mebel

Kadin Jepara Dorong Inovasi Desain Ukir untuk Perkuat Daya Saing Mebel

JATENGNIH.COM - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jepara mendorong pengusaha mebel dan ukir di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, berinovasi dalam desain serta pengembangan produk furnitur. Upaya ini dinilai penting untuk menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global.

Ketua Kadin Kabupaten Jepara yang juga Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Andang Wahyu Triyanto, mengatakan pemberdayaan industri mebel ukir membutuhkan inovasi dan penciptaan nilai tambah, bukan hanya mengandalkan potensi yang sudah ada. Hal itu disampaikannya di Jepara, Senin.

“Pemberdayaan industri mebel ukir tidak cukup hanya mengandalkan potensi yang sudah ada, tetapi juga perlu didukung inovasi dan penciptaan nilai tambah agar mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah,” kata Andang.

Ia menyebut penguatan seni ukir dan industri mebel Jepara perlu didukung inovasi desain, pengembangan material, serta kolaborasi lintas sektor. Dukungan kebijakan pemerintah daerah juga diperlukan untuk memperkuat identitas Jepara sebagai pusat seni ukir dan industri mebel.

Sementara itu, CEO Agra Guratama Raya Group Muhammad Jamhari mengajak berbagai pihak menjaga keberlanjutan seni ukir Jepara dengan mengeksplorasi material dan mengembangkan penerapan karya. Dalam materi bertajuk “Menolak Punah”, ia menjelaskan seni ukir dapat dikembangkan menggunakan bahan selain kayu, termasuk batu dan logam.

Inovasi dan penciptaan karya nyata, menurutnya, dapat membantu seni ukir berkembang mengikuti kebutuhan zaman dan menjangkau pasar lebih luas.

Perspektif desain disampaikan Pembina Yayasan REKANUSA sekaligus akademisi Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara, Dr. Drs. H. Eddy Supriyatna Marizar, melalui materi “Mengolah Getar-Getar Jiwa”.

Eddy menjelaskan desain menjadi penghubung nilai artistik seni ukir dengan kebutuhan industri furnitur. Seni ukir kayu merupakan bagian dari seni kriya yang memiliki nilai estetika dan identitas budaya, sedangkan furnitur adalah produk industri yang berorientasi pada kebutuhan konsumen dan nilai ekonomi.

Keduanya, kata dia, perlu dipadukan melalui pendekatan desain untuk menghasilkan produk inovatif yang mempertahankan karakter lokal sekaligus memenuhi preferensi pasar internasional.

“Pengembangan desain furnitur ukir kayu untuk pasar global tidak cukup hanya mengandalkan kajian ekonomi, tetapi perlu didukung pendekatan sosiologi seni, semiotika desain, serta POPI-TER (Pola Pikir Terbalik),” katanya.

Ia menambahkan, perancangan riset dan inovasi dapat dimulai dengan menetapkan luaran atau bentuk produk yang ingin dihasilkan. Perancang kemudian merumuskan temuan, kebaruan (novelty), tujuan, permasalahan, serta metode untuk mewujudkannya melalui konsep Logika Rasa.

Gagasan tentang penguatan seni ukir dan industri mebel itu menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Nasional REKANUSA 2026. Kegiatan yang digelar Yayasan REKANUSA tersebut berlangsung di Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara pada 29 Oktober 2026.

Pendiri Yayasan REKANUSA (Rainha Eka Nusantara), Eka Fitri Suryani, berharap seminar tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi nyata dan berkelanjutan antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, generasi muda, dan masyarakat.

“Sebagai pendiri Yayasan REKANUSA, saya berharap Seminar Nasional REKANUSA 2026 menjadi langkah nyata untuk membangun kolaborasi lintas sektor dalam menjaga warisan budaya sekaligus menumbuhkan masa depan,” ujar Eka.

Ia mengatakan Yayasan REKANUSA hadir untuk merawat identitas bangsa sekaligus membuka ruang bagi perkembangan zaman melalui bidang pendidikan, sosial, seni, budaya, dan pariwisata. Menurutnya, kemajuan tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budaya karena budaya dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan peluang, inovasi, dan daya saing.

Bagikan