JATENGNIH.COM - Pemerintah Kabupaten Blora menguji pengembangan beras organik dan penerapan teknologi pembenah tanah di dua desa. Upaya ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menambah nilai ekonomi hasil panen petani.
Bupati Blora Arief Rohman mengatakan Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, menjadi lokasi pengembangan padi organik dengan pendampingan Trubus dan Exxon. Sementara itu, Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, menerapkan teknologi pembenah tanah Gemburin dari PT Chemstar Agro Indonesia.
“Inovasi pertanian perlu terus dikembangkan sebagai upaya menjaga produksi pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Arief di Blora, Rabu.
Pengembangan padi organik di Desa Gondel melibatkan 108 petani dengan luas lahan 6,6 hektare. Beras yang dihasilkan telah menggunakan merek dagang Bestiw dan ditujukan untuk pasar premium.
Arief berharap beras tersebut dapat dijual minimal Rp20.000 per kilogram, lebih tinggi daripada harga beras biasa yang sekitar Rp13.000 per kilogram. “Kalau harga beras biasa sekitar Rp13.000 per kilogram, harapannya beras organik ini bisa dipasarkan minimal Rp20.000 per kilogram. Dengan begitu, ada nilai tambah dan pembeda dibandingkan beras pada umumnya,” ujarnya.
Menurut Arief, pengembangan beras organik masih membutuhkan peralatan pengolahan, seperti mesin penggiling, oven, dan mesin vakum. Kualitas produk juga perlu diperkuat melalui pengujian cita rasa, tingkat kepulenan, dan daya tahan setelah dimasak.
Pemkab Blora turut mendorong pendampingan petani oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL), agar kualitas dan kemasan beras organik dapat bersaing di pasar.
Di Desa Sumber, penerapan teknologi Gemburin dikembangkan melalui demplot. Arief menyambut baik hasil uji coba tersebut dan berharap teknologi itu dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung produktivitas pertanian di Blora.
Namun, ia meminta penerapan teknologi tersebut dilanjutkan dengan kajian dan pendampingan untuk mengukur dampaknya terhadap produksi, kualitas tanah, dan efisiensi biaya usaha tani.
“Hasil demplot yang bagus ini perlu kita tindak lanjuti dengan kajian dan pendampingan lebih lanjut, sehingga kita mengetahui manfaatnya secara nyata, baik terhadap peningkatan produksi, kualitas tanah, maupun efisiensi biaya usaha tani,” katanya.
Arief meminta Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4), penyuluh pertanian, serta Camat Kradenan menyosialisasikan hasil penerapan teknologi itu kepada kelompok tani.